CERPEN – Kisah Gadis Yang Dulunya Mungil

Terimakasih atas kasih sayang yang telah kau berikan beberapa tahun silam.

Terimakasih telah memberikan ilmu padaku dan saudara-saudara kandungku.

Terimakasih atas didikan engkau untuk menghadapi hidup, namun tetap saja didikan ibu yang lebih banyak….. ayah.

Semoga engkau (ayah) selalu diberikan kesehatan dan umur yang barokah. Amin.

Hari itu, ya benar hari itu. Ku terbiasa pulang dari perantauan kota yang begitu panas ini menuju kota yang begitu dingin dan membuatku merasakan kenyamanan yang mungkin sangat nyaman bagiku, kediri namanya. Hiruk pikuk kesibukan di surabaya kubuyarkan sejenak untuk menghilangkan rasa bosan dan lelahku setiap satu bulan sekali, di pangkuan wanita yang teramat aku kasihi, ibu. Seperti biasa, hari jumat pagi pada minggu ketiga setiap bulan pulanglah diri ini naik bus (tak sanggup tangan ini mengetik cerita di bus, karena terlalu banyaknya cerita di bus), kutempuh perjalanan bersama pak sopir dan kondektur selama kurang lebih 3-4 jam. Tak ada firasat apapun mengenai suatu kejadian di keluarga yang tak pernah aku duga sebelumnya, namun terjadilah kasus itu (duh, kejam bahasanya).

Awalnya, kakak saya yang memasang wajah polos dan tersenyum seperti biasa menjemputku di daerah kediri kota. Tumben-tumbenya orang ini mengajak saya makan, biasanya langsung nylonong pulang.

Sudah makan? Tanyanya (cengar cengir)

Ya belumlah, luwe banget. Jawabku (wajah bingung)

Ya sudah, ayuk beli bakso dulu.

Berangkatlah kita menuju tempat bakso mama, nah disinilah beliau memiliki cara yang begitu ampuh dan cerdas menurut saya, sebelum memberikan kabar yang mungkin pahit, karena posisi saya belum tahu kasus di rumah. Beliau beri makan dulu saya sebelum nanti tidak doyan makanan enak.

Pesan satu aja yo? tanyanya

Oh…. iya sip. Tumben cuman pesan satu? bukane sampean seneng banget yo sama bakso ini?

Aku sudah kenyang, sudah makan tadi. jawabnya

Karena begitu laparnya perut ini, bakso yang besar pun kuhabiskan isinya bukan mangkuknya. Karena kalau mangkuknya, meungkin bisa jadi aku sama dengan para seniman yang sedang “ndadi” di kesenian jaranan.

Sudah kenyang? Tanya kakak

Sudah, yuk pulang. Wes kangen karo emak.

Oke, oh iya aku mau cerita sedikit tentang bapak. Kita berhenti di GOR ya.

Oh oke, (kringet ndrodos). Apa yang akan diceritakan oleh bocah menyebalkan ini? Wajahnya begitu serius, tidak seperti biasanya. (gemuruhku dalam hati yang kotor ini)

Diboncenglah badanku yang gemuk ini olehnya. Sesampainya di GOR. Didudukanlah diri ini dan beliau pun duduk.

Ada apa? Tanyaku

Hmmmm. Jangan kaget lo yo (matanya sudah berbinar).

Iya ada apa? Kuulangi pertanyaanku

Bapak nikah lagi. (tambah brebes arek e)

Karo spo?

Karo wong etan kali, sing biasane marani ibuk pesen jajan. Wonge uelek. Ra ayu, mlarat. Geg pie to pakmu kuwi.

Baca Juga  Mohon, Jangan Engkau Cerai Aku

Mendengar pernyataan itu, diamlah sekujur tubuhku, diam mencerna lagi apa yang dia katakan, dan selalu bertanya dan bertanya pada diriku sendiri “apa iya bapak melakukan hal itu?” ah sungguh sulit kupercaya. Tak sadar, air mata menetes dari mataku dan suara gemuruh yang begitu keras di dada akibat sakit dan kebencian yang ada, kumunculkan melalui suara lirih tangisan. Ya kupelukan diri ini pada kakakku, sakit benar –benar sakit. Sudah tak kupedulikan orang-orang yang lewat di sekitar kami, menatap dan mungkin bilang “kenapa anak dua itu? Sedang syuting film atau mungkin dikira suka sama jenis? Maklumlah badanku lebih besar dari kakakku”.

Beberapa waktu telah berlalu, tangisku dan dia kakakku juga tumpah, rasanya mungkin malu jika mengingat hal itu sekarang ini. Segeralah kita pulang, sepanjang perjalanan sekitar 15 menit, dia kakakku ngedumel terus menerus dan selalu kutanyai sesuatu tentang perkara yang sedang panas di keluarga kami. Yang paling utama adalah bagaimana keadaan wanita yang paling aku cintai, yaitu ibuku, aku tak membayangkan bagaimana tingkat kesabaran beliau menghadapi ini, bagaimana sakit yang beliau rasakan. Diriku saja yang sebagai anak sakitnya minta ampun, apalagi beliau yang menjadi korban dari perkara yang menurutku sangat menyimpang ini. Di sela-sela perjalanan inipun kakakku juga bilang, “ibuk ndak kuat jika harus bicara masalah ini sama kau, akhirnya akulah yang harus mengatakannya”. Ya sudah kuduga memang benar jika ibu ndak akan mau mengatakannya, sudah kubayangkan juga seperti apa hati ini nanti jika bertemu dengan beliau, ku berharap perjalanan pulang itu lama dan lama. Tapi sepertinya tidak, selalu sesuatu yang ragu untuk dijalankan maka waktunya akan tiba dengan cepat, dan sebaliknya.

Kuucapkan salam dengan nada yang tidak seperti biasanya, agak lirih dan kudekatkan diri pada ibu. Kulihat beliau sedang berada di dapur, beliau tak berbalik entah memang karena tidak ingin membalikkan badan atau pura-pura tidak mencium bauku datang, atau juga mungkin karena beliau menangis tak ingin kulihat.

Assalamualaikum?salamku

Walaikumsalam. (suara lirih sekali ditambah sedih menurutku)

Beliau membalikkan badan dari hal yang tak kukeahui, Allah, belum ada 3 detik setelah menjawab salam menangislah beliau tersedu-sedu, meminta maaf. Kupeluklah beliau erat-erat, erat lama sekali, air mataku sudah tak malu lagi untuk keluar, ah suara beliau meminta maaf terus menerus diungkapkan. “Sepurane yo nduk, sepurane sing uakeh, aku yo gak eruh kok iso dadi koyok ngene”, itulah yang dikatakan beliau (diulang terus menerus)

Dan akupun hanya terdiam, tak menjawab demi menengkan batin beliau dan diriku sendiri. Hanya kuungkapkan lewat tangisan saja. Kulepaskan pelukanku ini, dan kukatakan sesuatu yang dapat mencairkan suasana.

Baca Juga  Hal Positif Dari Perayaan Malam Tahun Baru

Masak nopo buk? Tanyaku (sambil salaman)

Itu lo nduk, masak kesukaanmu, krengsengan. Ndang maem o.

Wah alhamdulillah, nggeh pun tak maem buk setelah ini. Jawabku

Kusegerakan diri untuk bersih-bersih badan dengan membawa rasa sakit. Sudah kusingkirkan dulu rasa ini. Tak berani aku membahas sesuatu apapun tentang ayah pada ibu. Biarkan ibu yang bercerita sendiri nantinya atau kucari waktu yang tepat untuk mengetahuinya secara detail.

Beberapa bulan sebelum ada masalah ini, ayah sudah berada di sel karena ada kasus pada yang beliau miliki. Melalui percakapan kecil sore hari dengan ibu, kakak, dan dua adek yang bermain.

Eh is, besok lo tetep jenguk bapakmu lo, kamu ngomongo, kok bisa sih bapak ngelakuin kayak gitu? kata kakaku yang memecah suasana diam

Ealah, haruskah aku kesana? Haruskah aku melihat wajahnya ataupun menyapanya? tak mau lah aku kesana daripada nanti jadi tangisan masal, ungkapku

Walah. Mosok tetep aku ae yang harus maju is, jawab mbakku dengan sikap mbesengut

Ah aku pun terdiam dan memikirkan jawaban apa yang harus kulontarkan, bingung campur acuh tak ingin memedulikan beliau (ayahku). Namun ditengah-tengah kegundahanku itu, disahutlah oleh ibu.

Oalah nak, besok berangkato kesana jenguk bapakmu, meskipun bapakmu seperti itu, itu ya tetap bapakmu. Setiap hari, mbakmu itu tak suruh untuk jenguk bapakmu.

Lha kenapa buk, sampean kok masih sudi jenguk beliau?tanyaku

“Iya sebenarya ibumu ini hanya menjalankan kewajiban yang status masih menjadi istri bapakmu, kemarin semenjak ibu dan mbak mu tahu kasus ini ibu juga berpikir dan down beberapa hari. Namun ibu nanti berdosa jika tidak memberikan makanan kepada bapakmu, karena di sana bapakmu ndak bisa cari makan sendiri. Sehingga ibu hanya menggugurkan kewajiban sampai bapakmu keluar dari sana. Wes pokok besok kamu kudu kesana”, penjelasan ibu.

Duaaarrr…… tamparan bagi diriku ini, kok masih bisa-bisanya ibuku ini mengesampingkan perasaanya yang mungkin sangat sakit sekali demi orang yang sudah menyakitinya. Ya maklumlah, dulu kala ibu sudah berpesan pada bapak “kalau mau poligami ya suruh bilang ke ibuk, dan ibuk pun akan mundur”. Ah ya sudahlah kalau bukan karena ibu yang menyuruh akupun tak sudi melihat bapak. Akan kuturuti dan semakin kutaati apa yang dikatakan ibuku semenjak musibah (menurut kami) menimpa kami ini. Ya sudahlah besoknya saya berangkat meskipun dengan hati yang agak berat, semoga dapat menjadi ringan karena beliau tetap ayah saya, tetap saya hormati sampai saat ini. Rasa kasihku pun tetap ada sampai saat ini, kucoba hilangkan kebencian yang tiada habisnya ini, begitu kata gadis yang dulunya dianggap mungil oleh ayahnya tersebut.

SHARE YA !!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ads Content
loading...

Komentarnya ?