Hilangnya Hak Asasi Manusia Untuk Perempuan

0
310
Hilangnya HAM Untuk Perempuan
Opini – Hilangnya Hak Asasi Manusia Untuk Perempuan

Budaya patriarkhi sering dianggap hanya ada di desa dan pelosok negeri ini, dimana akses perempuan sangat dibatasi baik dalam hal pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya. Namun faktanya budaya patriarkhi tidak hanya berkembang di desa, lingkungan kampus yang terletak di kota dan didominasi oleh mahasiswa berfikiran cerdas, intelektual yang kuat, dan relasi yang luas.

Permasalahan Pokok

Perbedaan yang terlihat didepan mata kita seperti perempuan di desa tidak diperbolehkan menempuh pendidikan lebih tinggi. Perempuan kota mendapat akses luas untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, namun lingkungan kampus masih kental dengan budaya patriarkhi yang jarang diketahui, bahkan sering didukung oleh perempuan sendiri.

Hal semacam ini tercermin dalam sikap laki-laki yang secara tidak langsung mendiskriminasi perempuan dalam forum diskusi amupun organisasi ketika menyampaikan pendapat.

Selain itu masalah juga saat perempuan  yang selalu mengatas namakan jenis kelamin ketika ada kesempatan menunjukkan kemampuannya “kau kan laki-laki, maka seharusnya kau yang memimpin diskusi”. Padahal antara memimpin diskusi dengan laki-laki atau perempuan tidak ada hubungannya dalam konteks seperti ini.

Hal ini seharusnya menjadi perhatian khususnya bagi mahasiswa yang sejatinya merupakan agent of change, agent of control dan lain sebagainya, seharusnya mahasiswa lebih mengetahui bahwa perempuan merupakan salah satu tolak ukur kemjuan bangsa, jika perempuan tidak diberikan akses dan dorongan untuk mengembangkan kemampuannya maka bangsa ini akan mengalami kemunduran pada generasi selanjutnya.

Terutama lagi untuk aktivis-aktivis, khususnya organisasi mahasiswa Islam, seperti PMII, HMI dan lainnya yang telah memelajari nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an maka sudah seharusnya kader-kader tersebut menjadi garda terdepan dalam mensukseskan pengaruutamaan gender (PUG) dan pengembangan kemampuan perempuan.

Gender, Hak, Dan Asasi

Berbicara tentang gender maka kita berbicara tentang laki-laki dan perempuan, berbicara tentang emansiapasi adalah kaitan antara laki-laki dan perempuan, tulisan ini tidak akan membahas gender secara mendalam, karena untuk memahami gender seseorang tidak perlu belajar tentang gender dan feminism, cukup mempelajari, memahami dan mengaplikasikan Hak Asasi Manusia itu tersendiri.

Baca Juga  Mengatasi Berita Hoax di Sosial Media

Menurut Miriam Budiarjo HAM adalah hak yang dimiliki setiap orang yang dibawa sejak lahir ke dunia, bersifat universal sebab dipunyai tanpa adanya perbedaan jenis kelamin, ras, budaya, suku, agama maupun sebagainya. Hak bisa diartikan sebagai kekuasaan untuk melakukan sesuatu atau kepunyaan (milik),

Sedangkan asasi merupakan hal yang utama, pokok atau dasar. Sehingga hak asasi manusia dapat diartikan hak-hak yang dimiliki setiap manusia sejak ia dalam kandungan, hak tersebut melekat di setiap manusia sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Tuhan YME).

Mengutip dari Markijar.com bahwa hak Asasi Manusia (HAM) berlaku secara universal.

Kesetaraan Gender
Ilustrasi Kesetaraan Gender (Foto Via Linkedin)
HAM Untuk Perempuan

Dasar-dasar HAM tertuang dalam Declaration of Independence of USA (Deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat) juga tertulis dalam UUD 1945, misalnya pada pasal 28, pasal 27 ayat 1, pasal 30 ayat 1, pasal 29 ayat 2 dan pasal 31 ayat 1. Filosofi hak asasi manusia tersebut bukanlah kebebasan individual, namun menjadikan manusia dalam hubungan berbangsa (makhluk sosial), hak asasi tidak terlepas dari kewajiban asasi manusia tersebut.

Ketika seseorang memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai hak asasi manusia, maka saat itulah orang tersebut menghargai sesama, termasuk perempuan. Berikut adalah beberapa pasal dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menjelaskan tentang hak asasi manusia:

  • Pasal 27 ayat (1) : “…warga negara bersamaan kedudukanya di dalam hukum dan pemerintahan…” dan perlu kita ingat bahwa negara kita adalah negara hukum seperti yang tercantum dalam pasal 1 ayat (3). Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan untuk mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia.
  • Pasal 31 ayat (1) : “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Setiap laki-laki dan perempuan berhak mendapat akses pendidikan.
  • Pasal 28C ayat (1): “… setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemebuhan kebutuhan dasarnya…” . dalam hal ini perempuan masih terbatas untuk mendapatkan akses pengembangan diri di lingkup kampus, seringkali organisasi yang mereka ikuti hanya menempatkan mereka dalam bidang konsumsi, acara (mc dan penerima tamu), masih sedikit perempuan yang ditempatkan sebagai konseptor, seperti ketua panitia, SC, Co per bidang.
  • Pasal 28D ayat (1): “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum…” . tidak hanya laki-laki, perempuan pun seharusnya mendapat pengakuan atas ide-ide dan pendapat yang mereka utarakan.
  • Pasal 28I ayat (2): “ setiap orang berhak atas bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”. Hal ini menjadi sesuatu yang tanpa disadari banyak dilakukan dalam lingkungan kampus, salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan adalah ketika terjadi pelecehan seksual secara verbal seperti menjadikan tubuh ke-wanita-an sebagai bahan guyonan dihadapan wanita tersebut, hal yang paling sering dijadikan bahan guyonan adalah bentuk tubuh, bentuk payudara, bentuk pantat dan lain sebagainya. Namun banyak perempuan yang tidak mempunyai keberanian untuk menyuarakan haknya, dan miris ketika laki-laki menganggap hal ini sebagai guyonan yang menyenangkan, sedangkan perempuan tersebut diam menahan amarah. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita minim akan sikap menghargai sesama.
  • Pasal 28J ayat (1): “ setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”
Ilustrasi HAM Perempuan dan Laki-laki
Ilustrasi HAM Perempuan dan Laki-laki (Foto Via Forbes)

Minimnya kesadaran akan hak asasi manusia yang terjadi di kalangan mahasiswa akan berpengaruh pada generasi selanjutnya, maka sudah seharusnya kaum aktivis dan intelektual memberikan contoh kepada pemuda lain untuk saling menghargai hak asasi manusia (laki-laki dan perempuan).

Baca Juga  Ini Kondisi Manusia Melepas Smartphone

Budaya pariarkhi yang menjamur dan subur sejak zaman penjajahan harus dilawan, karena pada masa tersebut perempuan menganggap penindasan dan keterbatasan yang diberikan kepadanya merupakan sebuah kehormatan. Sebagaimana cita-cita dari bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Generasi muda  harus menjadi garda terdepan untuk membumikan dan menegakkan hak-hak asasi manusia tersebut, dengan dimulai di lingkungan kampus.

SHARE YA !!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ads Content
loading...

Komentarnya ?